NewsLifestyle

Toekang Ketjos, Lestarikan Budaya Indonesia Lewat Seni Menyulam

Melestarikan budaya seni menyulam di Indonesia

Hobring.com – Menyulam adalah sebuah seni keterampilan dengan menggunakan media benang dan jarum untuk membentuk sebuah pola yang unik dan gambar yang menarik pada kain yang telah ditentukan.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa seni menyulam pertama kali diperkenalkan oleh Tiongkok sekitar tahun 2255 Sebelum Masehi (SM). Hal itu dibuktikan berdasarkan beberapa catatan sejarah pada masa Dinasti Chang yaitu 1766-1122 SM.

Hadirnya jubah para kaisar Tiongkok berbahan sutera hitam yang dirajut dengan benang emas dan perak adalah penanda bahwa seni menyulam dahulu dilakukan untuk mereka dengan strata sosial yang tinggi yakni kalangan atas atau kerajaan seperti yang dilansir dari Intisari Online yang tayang pada Kamis, 31 Mei 2018.

Namun, sumber lain juga menyebutkan bahwa seni menyulam pertama kali ditemukan oleh bangsa Mesir. Hal tersebut telah dibuktikan dengan sebuah peninggalan sejarah berbentuk sulaman pada kulit binatang dengan menggunakan bahan tradisional yaitu tumbuh-tumbuhan alami seperti yang dikutip dari Kompas.com yang tayang pada Selasa 5 Januari 2021.

Meski ada banyak versi mengenai seni menyulam di dunia, tapi seni menjahit manual yang satu ini ternyata sudah ada di Indonesia sekitar tahun 1701 sampai 1800.


Baca Juga:


Menurut Sativa Sultan Azwar seorang pengamat kain dari Universitas Trisakti dan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) mengatakan bahwa sejarah keterampilan seni sulam di Indonesia ada sejak abad ke-18 Masehi seperti yang dikutip dari Tempo.co, tayang pada Senin, 23 April 2012.

Seiring dengan perkembangannya, seni menyulam di Indonesia saat ini lebih cenderung banyak dilakukan oleh para wanita atau bahkan identik dengan keterampilan yang dimiliki oleh ibu-ibu.

Namun siapa sangka, kalau ternyata ketertarikan dunia seni menyulam tak hanya diminati oleh wanita saja tetapi juga digandrungi oleh para pria. Bukan hanya menjadi bagian dari aktivitas saja, ditangan merekalah seni menyulam dapat menjadi unik, menarik dan memiliki nilai jual yang tinggi.

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Obin Ousbourne (@obinousbourne)

Mereka adalah Derry Firmansyah Hernawan atau Kokok dan Dian Rusdiana atau Obin, para pegiat seni menyulam yang turut melestarikan dan mengembangkan seni yang satu ini sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia.

Berawal dari sang nenek, Dian Rusdiana atau Obin mulai belajar menekuni seni menyulam pada sekitar tahun 2004. Ia yang kala itu mempelajari seni menyulam secara autodidak, mempraktikkan keahliannya pada beberapa kain yang rusak.

“Kebetulan dulu nenek suka (menjahit/menyulam). Awalnya dari memperbaiki baju robek, rusak, (dan) celana gitu. Mulailah tertarik, akhirnya dikembangkanlah ke passion. Dan itupun dipakai sama saya sendiri,”ujar Dian Rusdiana atau Obin kepada Hobring.com pada Selasa (13/4/2021) melalui Zoom.

Sementara Derry Firmansyah Hernawan atau Kokok mengakui bahwa ia baru mempelajari dan menekuni hobi seni menyulam secara lebih serius lagi sejak tahun 2019.

Pada awal tahun itu pula, Kokok dan Obin bertemu dan berdiskusi banyak untuk membentuk, membangun dan mengembangkan sebuah usaha. Sampai kemudian lahirlah ‘Toekang Ketjos’ sebuah brand lokal asal Bandung, Jawa Barat yang digerakkan oleh mereka sendiri.

“Saya baru mulai di tahun 2019. Jadi saya niat awalnya itu belajar ke A’ Obin ini. Cuman saya udah punya brand sendiri namanya si Toekang Ketjos itu. Kita dapat tawaran kerja dengan salah satu instansi. Nah aku ajak A’ Obin deh untuk gabung (bareng) di Toekang Ketjos,”ungkap Derry Firmansyah Hernawan atau Kokok.

“Karena A’ Obin juga dulunya masih hobi doang. Pas sama Kokok kita seriusin gitu untuk bikin karya. Alhamdulillah, 2019 akhir bulan November (kita) bikin si Toekang Ketjos.”

Nama Toekang Ketjos tak lepas dari peran Kokok yang menamainya terlebih dahulu. Ia menceritakan alasan mengapa memberikan nama brandnya dengan sebutan Toekang Ketjos. Jika dilihat seksama, Toekang Ketjos merupakan penulisan ejaan lama yang sama dengan nama Tukang Kecos.

Seperti yang sudah kita ketahui bahwa Tukang adalah orang yang mempunyai keahlian dan keterampilan tertentu dalam penggunaan tangan. Sementara Kecos sendiri berasal dari bahasa sunda yang artinya menyulam atau menjahit secara tradisional.

Nama Toekang Ketjos dipilihnya karena merepresentasikan mengenai jati diri Kokok dan Obin yang menyukai fashion ala vitange dan budaya zaman dahulu.

“Karena kita juga memang seneng fashion yang vintage (dan) kultur zaman dulu. Dan emang pingin ngembangin, si kecos ini. Kecos itu seni yang sudah dilupakan karena (dulu sama) emak-emak kan? nah kita yang bakal kembangin nih. Anak muda dengan teknik yang baru,” jelas Kokok.

Jika Obin mengawali seni menyulam karena hobinya, lain cerita dengan Kokok yang mengawalinya karena melihat sebuah peluang. Mendapati usaha food trucknya tidak berjalan dengan mulus, Kokok mulai beralih ke seni menyulam karena budaya Sashiko sedang popular di negeri Sakura pada masa itu.

“Kalau saya, awalnya Toekang Ketjos (ada karena) di saat food truck saya lagi ‘down’. Penghasilan lagi dikit banget (dan) minim banget. (Saya pun) banyak melihat referensi dari salah satu media sosial (tentang) kultur Sashiko yang di Jepang (kalau ternyata) lagi rame banget. Nah kebetulan di Indonesia masih jarang kompetitornya. Kita bikinlah kayak gitu,”tuturnya.

Sekadar informasi, Sashiko merupakan jenis sulaman atau jahitan tradisional asli Jepang yang digunakan untuk penguatan dekoratif atau fungsional kain dan pakaian.

Pada zaman dahulu, seni menyulam Sashiko adalah seni yang mengupayakan pemanfaatan pakaian bekas dengan menyatukannya dan menjadikan sebuah pakaian yang baru dengan menggunakan jahitan yang sederhana.

Namun dengan mengaplikasikan sulaman ala Sashiko, maka pakaian yang bekas pun menjadi awet dan tahan lama. Hanya membutuhkan benang, jarum dan kain bekas, teknik menyulam ini ternyata semakin diminati oleh banyak orang termasuk Kokok dan Obin.

Pemilihan peluang yang tepat membuat keduanya sepakat untuk membangun sebuah usaha dengan menciptakan karya seni menyulam yang lain dari biasanya.

Jika kita biasa melihat seni menyulam dilakukan pada busana atau jubah saja. Lain cerita dengan Toekang Ketjos yang terkesan out of the box yakni menyulam pada banyak hal salah satunya adalah sepatu.

Obin mengatakan bahwa teknik kecos serupa dengan seni menyulam. Jika pada umumnya kecos hanya dilakukan oleh wanita terutama ibu-ibu dan hanya digunakan untuk memperbaiki kain yang rusak.

Maka, Toekang Ketjos membuat sesuatu yang berbeda dengan menghadirkan motif yang beragam untuk membuat seni menyulam ini semakin mendapat perhatian.

“Kecos sama kayak sulam yaitu teknik. Kita ingin merubah bahwa kecos itu tidak hanya memperbaiki barang yang rusak atau terkesan ibu-ibu juga. Kita tampilan juga nih dengan motif-motif lainnya (kekinian). Bahkan kita lebih mengejar ke Indonesia. Kita membuat Batik di kecos,” ujar Obin.

Sementara itu, menurut Kokok Indonesia saat ini perlu mengembangkan seni menyulam layaknya teknik seni menyulam Sashiko asli Jepang. Sebab, ia melihat bahwa Indonesia masih mengalami ketertinggalan dalam hal motif dan pola pada seni menyulam.

“Jadi nggak hanya Sashiko di Jepang, di kita juga ada nih namanya kecos. Tekniknya sama. Cuman kita kalah dari motif dan pola. Nah kita nih tugasnya buat kembangin pola dan motif itu,” kata Kokok.

“Kayak misalnya bunga patrakomala khas Bandung atau jalaknya khas Bandung. Kita bikin pattern dan polanya sendiri. Jadi kecos punya pola sendiri ke depannya. Nggak hanya Sashiko dari Jepang.”

Obin menambahkan bahwa seni menyulam Sashiko Jepang dinilai lebih mudah dicari dalam laman pencarian di internet. Selain motif dan pola yang beragam, peran media juga berpengaruh dalam proses memperoleh informasi dari teknik yang satu ini.

“Kalau misalkan secara Indonesianya, kita googling untuk teknik atau apapun, hanya (ada) pengertian. Motif pun tidak ada, yang keluar hanya (soal) batik. (Saya pikir) bagaimana kalau kita bisa membuat batik dengan teknik kecos. Intinya ingin memperkenalkan kultur kita gitu. Tradisional itu lebih keren dan lebih kuat juga,” tambah Obin.

Sebagai seni menyulam secara tradisional, maka cara pembuatannya pun menggunakan teknik yang manual. Kokok dan Obin menceritakan pengalaman mereka dalam proses melakukan penyulaman.

Kokok sendiri bisa menghabiskan waktu sekitar 8-12 jam perhari untuk mengecos atau menyulam. Jika dalam proses menyulam belum selesai, ia biasa melakukannya pada kemudian hari.

“Saya tuh fokusnya paling di 8 sampai 12 jam. 12 jam udah maksimal karena udah nggak fokus, matanya udah langsung blur. Jadi si benang udah kayak kebelah dua. Nah kalau udah gitu, mata udah capek. Udah ilang fokus, dibesokin lagi mendingan. Udah siwer,” ujarnya diselingi tawa.

Hal serupa ternyata juga dialami oleh Obin. Meskipun ia sudah lebih dahulu mengenal seni menyulam kecos daripada Kokok. Namun Obin mengaku bahwa kini ia lebih membatasi waktu proses menyulam dengan durasi maksimal 7-8 jam perhari.

“Awalnya itu dulu mau seharian pun saya terus (menyulam) karena maksudnya kalau dulu tuh untuk mengingat motif ya. Tetapi untuk sekarang, justru karena ini jadi pekerjaan. Saya mematoknya sehari terkadang tujuh jam (sampai) 8 jam. Dan (kalau sudah lebih dari) itu udah berhenti aja. Untuk kualitas (jahitan) juga, untuk menjaga mata juga,” imbuhnya.

Menurut Kokok dan Obin, dibutuhkan kesabaran yang ekstra untuk melakukan teknik seni menyulam kecos. Pasalnya, sebelum mulai menyulam seorang tukang kecos perlu melakukan beberapa hal seperti membuat pola, mengukurnya, menggambar, memilih komposisi warna benang dan lain sebagainya.

Hal itu dilakukan untuk menjaga kualitas agar lebih original, unik dan menarik. Komitmen terhadap kualitas hasil karya membuat Toekang Ketjos dibanjiri banyak orderan. Baru-baru ini, mereka bekerja sama dengan sebuah brand lokal sepatu asal Bandung untuk menyulam secara manual kepada 200 sepatu.

Kedepannya, Toekang Ketjos akan lebih sering berkolaborasi dengan banyak brand, musisi, bahkan instansi-instansi pemerintah maupun non pemerintah agar dapat terus melestarikan budaya seni menyulam kecos.

Untuk pemula itu dua jam (sampai) tiga jam cukup. Asal sering (dan) tiap hari dilakuin. Entar juga lama-lama kalau misalnya udah kerasa enak, pasti waktunya di tambah lagi. -Derry ‘Kokok’-

Jika berbicara soal seni menyulam Sashiko, Obin dan Kokok menyadari bahwa mereka tidak terlalu fokus pada hal itu. Pemahaman tentang ATM atau Amati Tiru Modifikasi digunakan oleh Toekang Ketjos untuk dapat menciptakan pola dan motif baru dengan gaya khas mereka.

“Pada awalnya ketertarikan, karena motif Sashiko (ada) banyak. Tapi akhirnya, pas kesini lebih mengembangkan pola-pola yang ada di kita. Batik juga keren. Baru kemarin beres menyulam pulau Indonesia (yang) di jahit secara manual,”tutur Obin.

Konsep urban Toekang Ketjos nyatanya mendapat respon positif dari masyarakat. Menurut Obin, bergabung dalam pameran karya di The Hallway, Bandung adalah bagian dari sebuah pencapaian.

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh KOKOK (@kokokderry)

Selain itu, pencapaian lainnya adalah berkolaborasi dengan salah satu brand sepatu lokal asal Bandung sampai bekerja sama dengan sebuah perbankan ternama di Indonesia.

Tak hanya itu saja, hasil karya Kokok dan Obin juga telah digunakan oleh Gubernur Jawa Barat yakni Ridwan Kamil dalam bentuk jaket hasil dari buatan tangan dari mereka sendiri.

Agar budaya seni menyulam kecos tetap dikenal oleh banyak orang, Obin dan Kokok sering mengadakan belajar menyulam bersama khususnya di tempat umum.

“Kita ajak gabung, kita ajarin, kita kasih tahu ‘nih ada pola ini’, ‘nih teknik sulam kayak ini’. Kita ajak langsung gabung aja. Karena kita juga beberapa kali menyulam di tempat umum itu sering,” kata Kokok.

Ketika melakukan itu (kecos), kita tidak membuat orang mengeluarkan modal (uang). Tapi kita selalu menyisipkan bahwa (kecos) ini bisa memanfaatkan barang-barang yang ada. -Dian Rusdiana ‘Obin’-

Budaya seni menyulam kecos mungkin sudah hampir jarang terdengar di telinga kita. Hanya segelintir orang yang mau melestarikannya termasuk Obin dan Kokok.

Oleh karena itu, agar budaya yang satu ini tetap lestari, sudah saatnya kita lebih peduli terhadap apa yang kita miliki saat ini. Caranya sangat sederhana yaitu mau berkontribusi melestarikan budaya salah satunya budaya seni menyulam.

FITRA

Content writer sejak 2015 sampai sekarang. Hobi traveling dan petualangan. Suka membaca dan koleksi buku-buku sejarah. Saat ini sedang menempuh magister Hubungan Internasional di Paramadina University. Nature enthusiast and blue lovers. Find me on Instagram!

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button