News

Resmi! Harga Rokok di Indonesia Kembali Alami Kenaikan

Hobring Harga rokok di Indonesia dipastikan kembali mengalami kenaikan karena ditetapkannya keputusan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) yang menaikan sekitar 12,5 persen untuk cukai hasil tembakau (CHT).

Kenaikan ini pun mulai berlaku pada Senin (1/2/2021) ini. Melihat keputusan ini Menteri Keuangan, Sri Mulyani pun menjelaskan meski terjadi kenaikan harga 12,5 persen namun kenaikan ini berbeda-beda pada beberapa golongan.

“Banderol rokok nantinya akan mengalami penyesuaian dengan kenaikan tarif masing-masing kelompok dan memang berbeda-beda meskipun kenaikan ditetapkan pada 12,5 persen,” ucap Sri Mulyani dikutip dari akun Youtube Kemekeu.

Sementara itu, Sigaret Putih Mesin (SPM) mengalami kenaikan lebih tinggi dari Sigaret Kretek Mesin (SKM) 2 A dan SPM 2A. Sedangkan untuk Sigaret Kretek Tangan (SKT) tidak mengalami kenaikan.

Baca juga:

Berikut rincian kenaikan rokok berdasarkan golongan serta tarifnya:

Sigaret Putih Mesin (SPM):

  1. SPM I naik 18,4 persen, tarif cukai menjadi Rp 935 per batang
  2. SPM II A naik 16,5 persen, tari cukai menjadi Rp 565 per batang
  3. SPM IIB naik 18,1 persen, tarif cukai menjadi Rp 555 per batang

Sigaret Kretek Mesin (SKM):

  1. SKM I naik 16,9 persen, tarif cukai menjadi Rp 865 per batang
  2. SKM IIA naik 13,8 persen, tarif cukai menjadi Rp 535 per batang
  3. SKM IIB naik 15,4 persen, tarif cukai menjadi Rp 525 per batang

Adapun langkah yang ditetapkan pemerintah ini adalah upaya untuk mengendalikan prevalensi konsumsi rokok di Indonesia. Pasalnya hal ini bukanlah kali pertama pemerintah Indonesia merilis peraturan seperti ini.

Tercatat sejak 2017 lalu dan setiap tahunnya pemerintah menaikan Cukai Hasil Tembakau (CHT) sebesar 11 persen, dan kenaikan CHT paling tinggi adalah pada tahun 2020 kemarin yang mengalami kenaikan 23 persen. Bukan tanpa alasan, hal ini dilakukan karena 2019 pemerintah tidak menaikan CHT.

Dan menurut laporan Bank Dunia, dengan adanya kenaikan cukai rokok yang konsisten di dalam negeri mampu membuat perokok mengalami penurunan sekitar 10,2 persen sepanjang 2011 hingga 2017.

Tidak hanya itu, Bank Dunia menyebutkan perokok di Indonesia sejak 2013-2016 mengalami penurunan cukup besar, yakni 36,3 persen menjadi 32,8 persen.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button