NewsLifestyle

Pentingnya Belajar Jadi Minimalis Untuk Kehidupan

Belajar jadi minimalis

Hobring.com – Setiap orang memiliki keinginan dan kebutuhan hidup yang berbeda-beda. Terkadang banyak hal yang tidak kita sadari bahwa tingkat keinginan bisa menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan kebutuhan.

Untuk mengontrol agar kebutuhan dan keinginan tetap selaras. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan gaya hidup sederhana atau yang lebih dikenal dengan istilah gaya hidup minimalis.

Dalam beberapa tahun belakangan ini, istilah gaya hidup minimalis atau minimalism lifestyle mulai banyak kembali dibicarakan oleh berbagai kalangan.

Mereka yang hidup diperkotaan sebagai kaum urban mulai mengadopsi gaya hidup yang satu ini sebagai upaya untuk menyelaraskan kedua hal tersebut yakni keinginan dan kebutuhan.

Cynthia Suci Lestari, Pendiri Komunitas Lyfe With Less menceritakan tentang pengalamannya saat mulai belajar jadi minimalis dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Berawal dari Quarter Life Crisis yang dialaminya dan berdampak pada kesehatan mental. Pada 2018, Cynthia mulai melakukan decluttering yakni kegiatan memilah barang yang sudah tidak terpakai dan membersihkannya.


Baca Juga:


Beberapa barang yang masih layak dan tidak Cynthia gunakan lagi kemudian ia putuskan untuk dijual. Hasil dari penjualan barang-barang preloved milik Cynthia menyadarkannya bahwa hal itu ternyata tak hanya berdampak untuk dirinya sendiri tapi juga untuk orang lain.

“Jadi aku sama temanku kebetulan satu kosan. Kita kurangin (barang dan menjualnya kembali). Terus ternyata kita dapat banyak uang dari barang preloved,” ujar Pendiri Komunitas Lyfe With Less, Cynthia Suci Lestari kepada Hobring.com pada Kamis (27/05) melalui Zoom.

“Dari barang-barang preloved kita ternyata bisa jadi treasure for others. Dan bisa jadi treasure juga buat kita karena kita mendapatkan money back dari hasil jual itu.”

Tak hanya sampai disitu saja, Cynthia juga melakukan decluttering pada sosial medianya sampai dengan file-file digital miliknya. Hal itu kemudian berdampak baik untuk kesehatan mentalnya.

“Efeknya pada kesehatan mentalku terutama, karena aku jauh lebih bisa berpikir jernih untuk mencari solusi atas problem yang ada,” tuturnya.

“Yang penting adalah dengan mengurai clutter di sekitar kita. (Dampaknya) jauh lebih lapang secara pandangan dan hati juga. Jauh lebih bersyukur sama apa yang kita punya. That’s why aku mau meneruskan apa yang aku lakukan pada saat itu.”

Kegiatan decluttering dengan gaya hidup minimalis menurutnya memiliki kaitan yang erat dengan kesehatan mental. Hal itu yang membuatnya merasa bahwa gaya hidup minimalis begitu penting terutama di masa Covid 19.

“Kalau menurut aku cukup penting apalagi di masa pandemi saat ini. Mengadaptasi gaya hidup minimalis sangat membantu mengontrol finansial,” katanya.

“Dengan mengadaptasi gaya hidup minimalis jadi lebih bisa memudahkan untuk menyederhakan hidup. Udah tahu prioritasnya kayak gimana. Jadi, kita sudah bisa memfilter nih apa yang harus dipilih.”

Menurut Cynthia dampak yang terjadi dari menerapkan gaya hidup minimalis adalah menyasar pada berbagai aspek di dalam kehidupan. Selain bisa mengontrol keinginan, gaya hidup minimalis juga bermanfaat untuk kesehatan mental.

“Ternyata minimalism atau kegiatan decluttering baik fisik (yaitu) barang atau decluttering non fisik kayak misalkan decluttering digital, pikiran atau main clutter sangat berdampak pada mental health.”

“Dengan mengadaptasi gaya hidup minimalis maka hidup jadi lebih simple. Dan hidup simple adalah kunci kewarasan kita.”

Cynthia menambahkan bahwa menjadi seorang minimalism ternyata bisa membantu mengurangi potensi sampah dan dampak positif lainnya bagi lingkungan sekitar.

“Rumusnya adalah Life Less. Ketika kita berkonsumsi secara cukup (dan) berkonsumsi secara tidak berlebihan. Maka potensi sampah yang kita hasilkan begitu sedikit.”

Semenjak belajar jadi minimalis dengan mengawalinya dari diri sendiri. Cynthia kemudian berinisiatif untuk membuat akun instagram sebagai bagian dari jurnal digital pribadinya dalam proses menjadi seorang yang berprinsip pada gaya hidup minimalis.

“Jadi tadinya itu adalah kayak akun second account yang memang aku buat untuk sharing. Aku ping sharing apa yang aku kerjain, apa yang aku pikirin, apa yang aku pelajari.”

“Dan seiring berjalannya waktu ternyata (akun) Lyfe With Less ini banyak yang sharing juga dengan cerita yang sama. (Sederhananya) aku pingin dengar cerita orang lain.”


Baca Juga:


Semakin lama, semakin banyak orang yang tertarik dengan cerita Cynthia mengenai gaya hidup minimalis dan tak sedikit juga yang memiliki kesamaan satu dengan lainnya.

Jurnal digital Cynthia, Lyfe With Less, kemudian beralih menjadi sebuah komunitas yang cukup besar di Indonesia sebagai komunitas gaya hidup minimalis.

Dengan adanya Lyfe With Less, Cynthia berharap ada banyak orang yang bisa belajar jadi minimalis dan saling berbagai ilmu pengetahuan serta pengalaman dari mengadaptasi gaya hidup minimalis dalam kehidupan sehari-hari.

FITRA

Content writer sejak 2015 sampai sekarang. Hobi traveling dan petualangan. Suka membaca dan koleksi buku-buku sejarah. Saat ini sedang menempuh magister Hubungan Internasional di Paramadina University. Nature enthusiast and blue lovers. Find me on Instagram!

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button