MusikNews

Musik dan Sepakbola, Senyawa Yang Tak Terpisahkan

Celoteh mengenai kerterkaitan antara musik dan sepakbola mungkin bukan menjadi hal yang aneh untuk di telaah secara mendalam. Tetapi, dual hal ini dapat dikatakan sebagai hal yang tak lekang oleh waktu untuk dicermati atau sekedar menjadi obrolan “warung kopi” saja.

Banyak orang yang melakukan penelitian mengenai keterkaitan secara langsung maupun tidak langsung antara lantunan dari musik dalam sepakbola, begitupun sebaliknya.

Secara ilmu psikologis dikatakan bahwa musik memiliki pengaruh terhadap semua elemen dalam semua aktifitas termasuk sepakbola. Menurut salah satu psikologis, musik dapat menjadi salah satu alat untuk menambah fokus dan konsentrasi para pemain sepakbola. Musik diyakini akan memberikan dampak positif dalam hal persiapan mental sebelum dan sesusah bertanding, maupun saat berlatih.

Keterlibatan musik dalam sepakbola ini bukan hanya sebagai medium untuk meningkatkan nilai jual dari sebuah gelaran sepakbola, seperti yang dilakukan oleh Ricky Martin dengan go go go ale ale -nya pada lagu “The Cup of Life” di Piala Dunia Perancis 1998 atau Shakira dengan “Waka Waka” nya yang mengelegar selama gelaran Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan.

Pendukung para tim sepakbola bisa dibilang menjadi salah satu elemen yang paling terlihat dalam mendefinisikan pengaruh musik dalam sepakbola ini. Sudah menjadi hal paling lumrah bagi mereka yang menyalurkan berbagai dukungannya melalui musik. Entah itu dapat berbentuk sebuah lagu baru yang secara khusus diciptakan ataupun memelesetkan lagu yang sudah ada menjadi sebuah rangkaian lirik motivasi untuk para tim idolanya.

Inggris mungkin menjadi salah satu negara yang para pendukung sepakbolanya terkesan “dicontoh” oleh banyak pendukung tim di negara lain. Kreativitas para pendukung sepakbola di Inggris ini sudah dikenal jempolan dalam melantunkan berbagai dukungan melalui sebuah lagu. Mungkin mereka bukan yang pertama kali melakukan hal tersebut, tetapi mereka bisa menjadi salah satu yang paling berpengaruh terhadap performa tim dibandingkan pendukung dari negara lain.

Tak perlu seindah rangkaian lirik lagu seperti Adele ataupun Celine Dion dalam membuat sebuah chant yang mereka gunakan. Tetapi, hanya butuh beberapa rangkai kata saja dapat efektif untuk memotivasi para tim idolanya ataupun meneror tim lawan. Seperti bagaimana gagahnya saat para suporter timnas Islandia melakukan viking clap yang hanya berisi sautan-sautan seperti di film 300.

Adu kreativitas antar pendukung tim sepakbola menjadi persaingan dan gengsi tersendiri bagi mereka. Tim Liverpool mungkin bisa jadi merupakan yang paling beruntung karena para pendukung mereka memiliki anthem terkenal yaitu “You’ll Never Walk Alone”, yang sudah diwariskan kedalam beberapa generasi sampai saat ini.

Singkat cerita, jargon andalan the scouser ini awalnya hanya dinyanyikan karena termasuk kedalam lagu- lagu top 10 di tahun 1960an. Para pendukung liverpool memang akan bernyanyi lagu-lagu tersebut sebelum bertanding saat itu. Pada akhirnya “You’ll Never Walk Alone” dari Gary & The Peacemakers ini tetap digaungkan sampai sekarang.

Di dalam negeri sendiri, ada satu masa dimana chants itu di bangun dari musik layak yang tidak mewakili apapun didalamnya. Salah satu basis pendukung tim Persib Bandung yaitu Viking pernah membuat kompilasi yang bertemakan sepakbola. Munculnya kompilasi tersebut menjadi warna tersendiri bagi persepakbolaan di Indonesia saat itu.

Menurut Kuntowiyoga dari Simamaung, walaupun tidak semua lagu menjadi tenar, tetapi beberapa diataranya dikenal sampai saat ini. “Jadi kalau menarik timeline dari 2001 – 2018 sekarang itu hampir tidak ada lagi kelembagaan penguatan lagu untuk sepakbola khususnya di Bandung,” ujarnya.

Tidak melulu nyanyian tersebut adalah lagu baru, tetapi saat ini salah satu kreativitas para pendukung sepakbola Indonesia terlihat dalam memelesetkan lagu yang sudah ada. Diantaranya yang cukup banyak digunakan adalah lagu Iwak Peyek. Selain itu, Para pendukung Persib Bandung saat sebelum bertanding menggaungkan lagu “Bagimu Negeri” dengan mengganti kata negeri menjadi Persib.

Personil band Pure Saturday, Ade Muir mengatakan, Kecintaan supoter terhadap klub atau timnas tergambar dari kreativitas suporternya, terlepas itu berupa lagu/chant atau koreografinya. “Saya pikir lagu apapun bisa, selain itu lagi wajib. Inspirasi itu bisa datang dari mana-mana. Tidak masalah selama itu tidak menjiplak,”ujarnya.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button