NewsMusik

Mengenang 40 Tahun John Lennon Semenjak Pembunuhannya

John Lennon bukan sekadar mantan anggota The Beatles dan seorang hippies yang mencintai perdamaian dengan menulis lagu pop ikonik seperti ”Imagine,” dia juga radikal di mana mendukung kelompok politik progresif seperti gerakan anti perang, organisasi Black Panther Party, dan Tentara Republik Irlandia (IRA).

“Berkomitmen untuk sebuah perubahan yang revolusioner, Lennon ingin menempatkan musiknya sebagai instrumen perjuangan. Akibatnya, dia bahkan dimasukkan ke dalam daftar buruan FBI karena dinilai radikal,” tulis Redfish dalam posting di Facebook (9/12) untuk mengenang Lennon.

Meskipun awalnya punya pandangan sinis dengan politik revolusioner, Lennon seperti jutaan orang pada tahun 1960-an, menjadi radikal akibat aksi protes terhadap Perang Vietnam. Tiga tahun setelah Lennon menuliskan “Revolution” di mana dia mempertanyakan metode dan tujuan revolusioner sayap kiri.

Lennon juga menuliskan “Power to the People,” sebuah lagu yang dimulai dengan bait, “Say We Want A Revolution, We Better Get On Right Away.” Kekasihnya, Yoko Ono, memainkan peran penting dalam mengubah pandangan Lennon terhadap dunia, memperkenalkan dia isu-isu feminism, dan memperkuat langkah Lennon ke politik sayap kiri.

“Karya terbesar Lennon, “Imagine,” adalah tangisan untuk dunia yang lebih baik. Dia meringkas makna lagu tersebut sebagai “anti religius, anti nasionalis, anti konvensional, anti kapitalis, tetapi karena dipermanis maka bisa diterima, sebuah pesan politik dengan sedikit pemanis,” tulis Redfish.

Ketir dengan kekerasan negara Inggris di Irlandia Utara, setelah pasukan Inggris membunuh 14 demonstran tidak bersenjata di Derry pada tanggal 30 Januari 1972 silam, Lennon menulis lagu “Sunday Bloody Sunday,” ia ikut berdemonstrasi menekan pasukan Inggris di Irlandia Utara dan berkata “Jika ada pilihan antara IRA dan tentara Inggris, aku bersama IRA.”

Selama beberapa tahun kemudian, dia bahkan dipengaruhi oleh ide-ide sosialis, menulis lagu-lagu seperti “Working Class Hero,” yang merupakan penghormatan bagi para pekerja dan dia menyebutnya sebagai “lagu untuk revolusi.”

Namun, Lennon akhirnya kecewa dengan pandangan politiknya sama sekali, sebagai dampak dari disorientasi yang terus meningkat di antara kelompok kiri dengan revolusi tidak terwujud, dan perihal perjuangan melawan struktur kekuasaan yang ada terus menurun, menyebabkan Lennon perlahan meninggalkan dunianya, baik dalam aktivisme dan musiknya.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button