NewsTraveling

Hari Kebangkitan Nasional, Inilah Tempat Wisata Sejarah di Kota Yogyakarta

Hobring.com – Kota Yogyakarta dikenal sebagai tempat terselenggaranya kongres pertama organisasi Budi Utomo yaitu organisasi kepemudaan yang didirikan pada 20 Mei 1908 oleh Dr. Soetomo dan beberapa para mahasiswa STOVIA yakni Goenawan Mangoenkoesoemo dan Soeraji.

Sementara tiap tanggal 20 Mei selalu diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional sesuai dengan diresmikannya Budi Utomo sebagai gerakan perlawanan pelajar Jawa untuk mencapai kemerdekaan Indonesia yang bersifat sosial, ekonomi, kebudayaan dan non politis.

Kota Yogyakarta sendiri disebut sebagai kota pelajar. Pada tanggal 3-5 Oktober 1908 setelah diresmikannya organisasi Budi Utomo, pertama kalinya Raden Adipati Tirtokoesoemo ditunjuk sebagai presiden Budi Utomo yang pertama.

Sambil mempelajari sejarah dari Hari Kebangkitan Nasional, tidak ada salahnya untuk mengetahui beberapa tempat wisata bersejarah di Kota Yogyakarta yang kaya akan perkembangan sejarah kemerdekaan Indonesia.

Berikut ini adalah daftar tempat wisata di Kota Yogyakarta yang bisa Anda kunjungi untuk mempelajari sejarah di Indonesia.

Museum Perjuangan Yogyakarta

Dalam rangka memperingati setengah zaman Kebangkitan Nasional, maka pada 20 Mei 1958 terbentuklah “Panitia Monumen Setengah Zaman Kebangkitan Nasional Daerah Istimewa Yogyakarta” yang dipimpin oleh Sri Sultan Hamengkubuwana IX.


Baca Juga:


Saat itu, kepemimpinan Sultan HB IX didampingi oleh para kepala jawatan, wakil-wakil dari kalangan militer dan polisi, para pemimpin partai dan organisasi dari berbagai kalangan yang tergabung dalam Panitia Persatuan Nasional (PPN) serta kaum cendekiawan dan lain-lain sebagai anggotanya.

Pada 1952, terbentuk sebuah panitia yang disebut Panitia Sementara Museum Perjuangan. Tugas mereka adalah merencanakan berdirinya Museum Perjuangan dengan cara mengumpulkan, menyimpan, dan memelihara barang-barang yang berhasil dikumpulkan di masa perjuangan bangsa Indonesia.

Museum Perjuangan Yogyakarta
Foto: Bakpia Juwar Satoe

Seiring berjalannya waktu, Museum Perjuangan digunakan secara resmi dan menggeser kepopularan Monumen Setengah Kebangkitan Nasional. Bahkan media juga menyebut Monumen Setengah Zaman Kebangkitan Nasional menjadi Museum Perjuangan.

Berlokasi di Jalan Kolonel Sugiyono 24, Yogyakarta, Museum Perjuangan merupakan bukti dari proses perjuangan demi mewujudkan kemerdekaan Indonesia di masa penjajahan.

Monumen Yogya Kembali

Museum sejarah dari perjuangan bangsa Indonesia berikutnya adalah Monumen Yogya Kembali yang terletak di Jalan Ringroad Utara, Jongkang, Yogyakarta.

Monumen Yogya Kembali
Foto: Sanjaya Tour

Dibangun pada 29 Juni 1985, Monumen Yogya Kembali merupakan memperingati peristiwa bersejarah tentang ditariknya bala tentara Belanda dari Yogyakarta pada tanggal 29 Juni 1949 yang pada masa itu ditetap sebagai ibukota Republik Indonesia.

Itu artinya 29 Juni merupakan tanggal bersejarah karena terbebasnya Yogyakarta dari kekuasaan pemerintahan Belanda di Indonesia.

Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta

Pada awalnya Benteng Vredeburg dibangun sebagai bagian dari pusat pemerintahan dan pertahanan Belanda di Yogyakarta.

Pada 1760, awal pembangunan Benteng Vredeburg berada ditanah milik kasultanan Yogyakarta. Namun dalam hal fungsionalnya, Belanda mengambil alih dan memiliki peran dalam perkembangannya.

Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta
Foto: Visiting Jogja

Singkat cerita, pada 1992 Benteng Vredeburg secara resmi berganti fungsi menjadi Museum Khusus Perjuangan Nasional dengan namanya Museum Benteng Yogyakarta.

Berada di Jalan Jenderal A. Yani No. 6, Yogyakarta, Museum Benteng Vredeburg memiliki berbagai macam koleksi dan kisah perjuangan bangsa Indonesia ke dalam diorama yang ditampilkan.

Museum Pergerakan Wanita

Museum Pergerakan Wanita Indonesia merupakan tempat wisata di Yogyakarta yang digunakan sebagai sarana untuk mengenang perjuangan para wanita Indonesia di masa lalu.

Di dalam museum ini, kita bisa melihat berbagai koleksi tentang perjuangan wanita yang dikelompokkan ke dalam lima periode.

Adapun periode tersebut di antaranya masa perang kemerdekaan, masa demokrasi liberal, demokrasi terpimpin, masa orde baru dan masa reformasi.

Museum Pergerakan Wanita
Foto: Travelingyuk.com

Selain itu, kita juga dapat melihat diorama yang menjelaskan tentang peran dan kontribusi wanita di masa perjuangan. Salah satu tokoh emansipasi wanita yakni R.A Kartini dapat kita saksikan dioramanya ketika sedang mengajar membaca dan menulis kepada wanita lainnya.

Terletak di Jalan Laksda Adisucipto 86-88, Museum Pergerakan Wanita Indonesia akan mengajak kita untuk lebih melihat bahwa perjuangan bangsa Indonesia tidak hanya dilakukan oleh pria saja. Namun semua elemen dan kalangan tak terkecuali para wanita tangguh di seluruh Indonesia.

Museum Dewantara Kirti Griya

Pada 14 Agustus 1935, Ki Hadjar Dewantara, Ki Sudaminto, dan Ki Supratolo membeli sebidang tanah seluas 5.594 m2 dari Mas Adjeng Ramsinah.

Pada November 1957, parapecinta Taman Siswa memberikan persembahan bakti kepada Ki Hajar Dewantara berupa rumah tinggal yang diberi nama Padepokan Ki Hadjar Dewantara.

Museum Dewantara Kirti Griya
Foto: GudegNet

Pada 2 Mei 1970, sebuah museum diresmikan dan dibuka unutk umum oleh Ki Hajar Dewantara yang diberi nama Museum Dewantara Kirti Griya.

Adapun makna dari nama tersebut adalah sebuah rumah yang mengandung hasil kerja Ki Hajar Dewantara. Bagi tokoh pendidikan tersebut, Dewantara Kirti Griya bukan sekadar rumah tapi kehidupannya untuk mengabdi pada dunia pendidikan khususnya di Indonesia.

FITRA

Content writer sejak 2015 sampai sekarang. Hobi traveling dan petualangan. Suka membaca dan koleksi buku-buku sejarah. Saat ini sedang menempuh magister Hubungan Internasional di Paramadina University. Nature enthusiast and blue lovers. Find me on Instagram!

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button