NewsLifestyle

Hadapi Hoaks Lewat Literasi Digital Bersama Komunitas Siloka

Hobring.com – Perkembangan digitalisasi saat ini berpengaruh cukup besar terhadap semua aspek kehidupan termasuk di dalam dunia literasi. Tak ayal, persoalan seperti disinformasi atau hoaks sampai kekeliruan dalam menerima informasi merupakan permasalahan yang masih dengan mudah ditemui sampai saat ini.

Kementerian Komunikasi dan Informatika mencatat selama periode pada 23 Januari 2020 sampai 10 Maret 2021 terdapat 2.697 isu hoaks yang beredar di ruang digital khususnya media sosial seperti yang dikutip dari laman Kantor Berita Antara yang tayang pada hari Rabu (10/03/2021).

Berawal dari arus informasi dalam dunia digital yang kadang sulit terkendali. Akhirnya membuat sekelompok anak muda, berinisiatif untuk membentuk sebuah komunitas yang peduli terhadap literasi digital. Mereka adalah Komunitas Siloka.

Nama Siloka serupa dengan bahasa Jawa yang disebut dengan Suluk. Sementara dalam terminologi Alquran, Suluk berasal dari kata Fasluki. Nia Yuniati, Humas sekaligus salah satu penggagas Komunitas Siloka menceritakan tentang makna dari nama Siloka.

“Siloka sama dengan Suluk kalau di Jawa. Siloka artinya pepatah, petuah dengan bahasa indah dan bermakna dalam. Kalau Suluk biasanya dipakai Wali (dan) juga sebagai media tulis, memberikan pepatah, petuah, puji-pujian, cerita, dan lain-lain,” ujarnya kepada Hobring.com pada Selasa (30/03/2021) melalui Zoom.


Baca Juga:


Dalam bahasa Arab, menurut Nia, Siloka atau Suluk berasal dari kata Fasluki yang berarti menempuh. Terdapat dalam Surah An-Nahl ayat 69 yang berbunyi, “Fasluki subula rabbiki zululan”, yang artinya ‘Dan tempuhlah jalan Rabb-mu yang telah dimudahkan (bagimu).’

Makna tersebut yang kemudian membuat Nia bersama empat anak muda lainnya yang berasal dari Bandung menggagas komunitas literasi bersama-sama sejak akhir tahun 2018.

Komunitas Siloka melihat dunia literasi saat ini tak hanya sebatas mengonsumsi bahan bacaan saja. Mereka pun mulai terkonsentrasi pada aktivitas mengkaji sebuah informasi khususnya dari ruang digital untuk menghindari disinformasi atau hoaks serta kekeliruan dalam menerima informasi.

“Karena yang kita ketahui bahwa dunia literasi itu bukan hanya sebatas konsumsi baca. Tapi (tentang) bagaimana kita menelaah, bagaimana kita harus bisa mencerna dan memilah memilih dari informasi apa yang kita dapat. Bacaan apa yang kita baca dan konsumsi. Kita harus telaah itu lebih dalam lagi,” tuturnya.

Nia menyadari bahwa saat ini dunia digitalisasi memiliki dua sisi yaitu positif dan negatif. Untuk menghadapi informasi yang berkembang melalui sosial media, Komunitas Siloka memberikan beberapa program reguler yaitu Diskusi dan Pelatihan Menulis.

literasi digital
Dok. Komunitas Siloka. Foto: Istimewa

Dari dua program tersebut Komunitas Siloka kemudian mengembangkan literasi menjadi tiga poin penting yakni input, proses dan output. Input yang dimaksud adalah melihat, membaca dan mendengar.

Namun lebih dari itu, Nia menambahkan bahwa membaca sesungguhnya adalah memahami situasi, kondisi yang sedang terjadi saat ini dan membaca apapun yang terjadi di lingkungan kita.

“Kalau yang awalnya itu tadi input bisa dari dengar, baca, dan lihat. (Untuk) membaca sendiri tidak hanya baca buku (dan) baca tulisan tapi juga baca situasi, baca kondisi, baca apapun yang ada disekitar kita dan lingkungan kita,” ujar Nia.

Sementara proses dalam literasi adalah berdiskusi, menuliskan review dan lain sebagainya. Kemudian setelah itu adalah output dalam literasi yaitu menghasilkan sebuah karya berupa tulisan atau karya berupa suara seperti podcast.

“Pada akhirnya akan menghasilkan prosesi outputnya yaitu sebuah karya. Bisa karya tulis, karya suara, karya lain sebagainya. Nah itu prosesi literasi.”

Proses literasi inilah yang menurut Komunitas Siloka akan membantu kita untuk menghadapi disinformasi atau hoaks yang sering terjadi di sekitar kita.

literasi digital
Dok. Komunitas Siloka. Foto: Istimewa

Saat pemahaman literasi ini diaplikasikan ke dalam dunia digital tentu akan menjadi sesuatu hal yang berbeda dan bisa menjadi inovasi yang baru.

Nia mengamati bahwa ruang digital memiliki dampak baik tapi juga sekaligus bisa berdampak buruk. Ia melihat bahwa saat ini masyarakat memiliki minat membaca yang tinggi, tetapi tidak disertai dengan daya yang mumpuni.

“Kalau saya ambil dari beberapa teori komunikasi, fungsi media massa sebagai tempat pembelajaran sosial, tempat informasi ada, tempat hiburan dan lain sebagainya. Nah yang jadi masalah adalah ketika hiburan menjadi diminati di atas segala-galanya. (Sehingga) yang penting hanyalah sisi hiburannya saja.”

Menurutnya, kondisi nyata yang terjadi saat ini adalah budaya konsumtif masyarakat terhadap informasi yang semakin meningkat. Namun, cara menyeleksi informasi yang masih dianggap belum terlalu kuat.

“Ketika masyarakat kita saat ini konsumtif membaca tapi tidak konsumtif menyeleksi. Misalnya bacanya sering, tapi menyeleksi informasi (masih kurang).”

Berawal dari lima anggota dan kini menjadi lebih dari 60 anggota, membuat Komunitas Siloka berharap kehadirannya bisa mewadahi bagi para pegiat literasi lainnya.

literasi digital
Dok. Komunitas Siloka. Foto: Istimewa

Diharapkan pula pemahaman dan daya atas literasi digital membuat pengguna aktif sosial media bukan hanya mendapatkan apa yang dibutuhkan. Namun juga mampu menyeleksi, menganalisis dan memahami terhadap informasi yang beredar di masyarakat.

“Jangan hanya baca hanya dari satu sumber karena satu sumber itu tidak akan memvalidasi bahwa hal itu benar. Coba baca, dari seluruh sudut pandang lain.”

“Jadilah pembaca yang aktif. Munculkan banyak pertanyaan. agar kita bisa tahu, kenapa bisa muncul berita demikian.”

Komunitas Siloka mengajak kita untuk menjadi seorang pembaca yang aktif dengan tidak hanya bergantung pada satu sumber saja.

IMG 20190317 WA0026

Belajar untuk secara otomatis melakukan verifikasi dan validasi pada tiap informasi yang diterima. Hal itu adalah contoh sederhana melawan disinformasi.

Begitupun ketika menjadi seorang pendengar, jadilah seorang pendengar yang bijak yang bisa mendengarkan dari berbagai sudut pandang. Salah satu contohnya adalah dengan berdiskusi bersama orang-orang yang memiliki sudut padang berbeda.

Nia mengatakan bahwa saat ini, tantangan lain yang dihadapi oleh Komunitas Siloka bukan hanya dari eskternal yang meliputi peran aktif masyarakat dalam menghadapi dunia literasi digital.

Namun ada faktor internal lainnya yang berkaitan tentang bagaimana menjadi konsisten terhadap suatu pilihan yang sedang dijalani. Ia mengambil contoh mengenai sumber daya manusia yang sama pentingnya untuk dapat menjalankan visi misi Komunitas Siloka.

Managing people it’s not easy. I mean kayak dari banyaknya manusia-manusia yang ada. Istilahnya kalau misalnya skill kita bisa create dengan konsistensi. Tapi kalau misalnya memanage orang (dan) kita barengan (itu sulit),” ujar Nia Yuniati.

“Saya sejujurnya senang banget dengan energi dan vibes dari anak-anak muda saat ini. Karena jiwa eksplorasi tinggi, kemudian jiwa penasaran yang masih tinggi.”

Komunitas Siloka tak henti-hentinya untuk mengajak masyarakat untuk konsisten melawan disinformasi dan hoaks yang dimulai dari diri sendiri.

Oleh karena itu, sangat penting untuk kita saat ini untuk memperbanyak ilmu pengetahuan dan mau belajar dari tiap-tiap aspek bidang kehidupan.

Karena melalui literasi digital, menghadapi disinformasi bukan sesuatu hal yang mustahil khususnya di era digitalisasi.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button