NewsHiburanTraveling

Angkat Budaya Bali, Ini 5 Hidden Gem di Film A Perfect Fit

Hobring.com – Jika berbicara soal Bali, mungkin hal romantis akan selalu melekat di pikiran. Hal inilah yang ditonjolkan dalam film terbaru yang tayang di Netflix berjudul A Perfect Fit, Kamis (15/7).

A Perfect Fit yang berlatar Bali itu merupakan film hasil garapan sutradara Hadrah Daeng Ratu dan penulis Garin Nugroho.

Film bergenre komedi romantis itu mengisahkan tentang seorang fashion blogger asal Bali bernama Saski (Nadya Arina) yang kepincut dengan pembuat sepatu bernama Rio (Refal Hady).

Hadrah Daeng Ratu sang sutradara bercerita bahwa film ini terinspirasi dari cerita dongeng Cinderella dengan sajian romansa dan simbol sepatu sebagai jalinan cerita.

“A Perfect Fit merupakan sebuah kisah cinta yang berkaitan dengan dongeng – sesuatu yang kita sering khayalkan tetapi selalu diharapkan menjadi nyata,” jelas Hadrah Daeng dalam konferensi pers A Perfect Fit.

“Memilih sepatu sama seperti memilih pasangan. Jika kita merasa nyaman dengan sepatu dan pijakannya, maka langkah dan hidup kita juga akan menjadi nyaman. Kisah cintanya berbeda karena jika biasanya dari mata turun ke hati, ini dari kaki naik ke hati. Dalam A Perfect Fit, tidak ada yang tidak mungkin dalam cinta,” sambungnya.

Menggabungkan romansa yang ringan dengan budaya dan tradisi Bali yang kuat, A Perfect Fit tak hanya menyuguhkan berbagai momen yang mendebarkan hati namun juga sisi Bali yang jarang terlihat.

Berikut ini adalah 5 hidden gem Bali yang dapat Anda nikmati secara virtual lewat film Netflix A Perfect Fit!

a perfect fit
Desa Tenganan di film A Perfect Fit (Dok: Netflix)

Desa Tenganan

Dalam film ini, Saski memiliki rumah yang berlokasi di desa bernama Desa Tenganan, keindahan desa ini dan keseharian masyarakatnya pun tergambar di beberapa adegan, salah satunya saat Saski berkunjung ke kerajinan sepatu milik Pak Ketut (Yayu Unru).

Desa Tenganan merupakan desa tertua yang menjadi tempat bermukim suku Bali tua yang disebut Bali Aga.

Masyarakatnya hidup dengan mempertahankan aturan adat istiadat dan menjaga warisan secara turun-temurun, termasuk dalam membangun rumah.

Menurut sang penulis, Garin Nugroho tak asal memilih lokasi ini, karena merepresentasikan adat istiadat Bali yang masih terjaga dengan baik.

“Arsitektur bangunannya yang khas dengan bata merah berukuran kecil, juga memilih desa ini untuk menggambarkan orang tua Saski yang menjaga warisan budaya sekaligus pembaca lontar, karena Desa Tenganan sendiri terkenal dengan pembuat dan pembaca Lontar,” ujar penulis Garin Nugroho.

a perfect fit 1
Adegan di Pantai Melasti (Dok: Netflix)

Pantai Melasti

Bali terkenal akan banyaknya pantai yang indah dan ikonik. Meski jarang terdengar, kehadiran Pantai Melasti ini tidak kalah saing dengan pantai lainnya.

Pantai ini memang terbilang baru sebagai destinasi wisata dan memerlukan perjalanan yang menantang saat mengunjunginya.

Namun, keeksotisan Pantai Melasti beserta bukit-bukit kapur alami yang menjulang tinggi bisa membuat Anda langsung jatuh cinta dengan tempat ini.

Sang Sutradara, Hadrah Daeng Ratu menjelaskan mengapa memilih lokasi tersebut, ia mengungkapkan karena cocok untuk adegan emosional di dalam film.

“Kami merasa perpaduan tebing yang kokoh dengan indahnya pantai dapat menjadi dua hal yang ambigu, layaknya pilihan sulit yang harus Saski ambil dalam hidupnya,” jelas Hadrah.

a perfect fit 2
Adegan di Desa Jatiluwuh (Dok: Netflix)

Desa Jatiluwih

Masih ingat dengan adegan Saski dan Rio yang sedang naik motor berlatarkan pemandangan sawah yang memanjakan mata? Adegan tersebut diambil di lokasi Desa Jatiluwuh, Tabanan.

Pesawahan disini menggunakan sistem terasering, dan semakin apik karena dikelola oleh Subak, yakni organisasi kemasyarakatan yang diwariskan turun-temurun.

Pada 2012, UNESCO bahkan menetapkan Subak Desa Jatiluwih sebagai warisan budaya tak benda.

Meskipun dikenal dengan keindahan pantainya, areal persawahan dengan sistem terasering justru menjadi ciri khas Bali yang lebih dulu dikenal para wisatawan sejak abad ke-20.

a perfect fit 3
Adegan di Jalan Gootama (Dok: Netflix)

Jalan Gootama

Jalan Gootama merupakan jalan yang paling populer di Ubud, khas dengan toko-toko kecil yang memiliki produk lokal berkelas.

Meskipun terkenal dengan tempat belanja suvenir, mungkin jika Anda sadari jalan ini merepresentasikan Bali yang penuh dengan keberagaman dan kehangatan.

“Jalan Gootama dipilih menjadi lokasi syuting karena memperlihatkan sisi Bali yang multikultural dan modern,” jelas Hadrah.

a perfect fit 4
Tradisi Mepantigan (Dok: Netflix)

Tradisi Gulat Lumpur (Mepantigan)

Tidak hanya lokasinya saja, film A Perfect Fit juga menampilkan beberapa budaya khas Bali yang jarang terekspos, seperti tradisi Mepantigan yang kerap diadakan di Ubud dan Batubulan.

Mepantigan sendiri berarti saling membanting, merujuk kepada salah satu gerakan utama dalam tradisi ini.
Tradisi gulat lumpur ini ditujukan untuk meredakan aksi kekerasan dan memiliki belas kasihan kepada lawan.

Dalam cerita, memperkenalkan Mepantigan dalam sebuah adegan menarik di mana persaingan sengit Deni (Giorgino Abraham) dan Rio mulai memasuki puncaknya.

“Kami memilih Bali karena daya tariknya yang unik, termasuk warisan budayanya yang kaya. Melalui A Perfect Fit, kami ingin memperkenalkan sisi Bali yang belum banyak dijelajahi dalam budaya pop sebelumnya,” ujar Garin.

Film ini juga bisa menjadi pengobat rindu bagi penonton yang rindu untuk berlibur terkhusus ke Bali.

“Semoga film kami bisa menjadi teman bagi warga Indonesia saat ini,” jelas Garin Nugroho.

Selain dibintangi Nadya Arina, film ini juga dihiasi aktor-aktor berbakat Indonesia, di antaranya Refal Hady, Giorgino Abraham, Laura Theux, dan Anggika Bolsterli.

Selain itu turut hadir para pemain kawakan seperti Christine Hakim, Ayu Laksmi, Mathias Muchus, Unique Priscilla, dan Karina Suwandi.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button